Monday, 4 January 2016

METODE PELAYANAN PADA BIMBINGAN KONSELING dan CONTOH KASUS



METODE PELAYANAN PADA BIMBINGAN KONSELING dan CONTOH KASUS




  

Kata Pengantar
            Segala puji marilah kita panjatkan kehadirat Ilahi Robbi atas berkat rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah ini, sholawat serta salam juga tidak lupa kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman kita dalam kehidupan.
Penulis mengucapkan banyak – banyak terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini. Dan juga ucapan terima kasih khusus kepada dosen mata kuliah “ bimbingan konseling “ Ibu Nia Roistika,M.Pd yang senantiasa membimbing kami dalam pembuatan makalah ini sampai selesai.
            Penulis berharap semoga makalah profesi kependidikan dengan materi “ Pelayanan Bimbingan Konseling “ ini menjadi sebuah bacaan yang bermanfaat bagi pembaca umumnya dan  penulis khususnya.
Penulis tentunya mengharapkan kritik dan saran yang bermanfaat guna menyempurnakan makalah – makalah selanjutnya. Semoga ini dapat bermanfaat bagi semua. Amin. 


PemulutanBarat, 8 Desember 2015
Daftar Isi
Sampul Makalah ..................................................................            1
Kata Pengantar ....................................................................            2
Daftar Isi .............................................................................            3
Bab I pendahuluan
A.     Latar Belakang ....................................................................            4
B.     Rumusan Masalah ...............................................................            4
C.     Tujuan Perumusan Masalah .................................................            4
Bab II PEMBAHASAN
A.     Metode Pelayanan BK ........................................................            5
B.     Contoh kasus pelayanan BK................................................           11
Bab III PENUTUP
A.     Daftar Isi .............................................................................            21
Daftar Pustaka .....................................................................            22



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Kita mengenal konsep bimbingan belajar sebagai sebuah lembaga tempat siswa-siswa memperdalam pengetahuan/pelajaran sekolah. Menurut A J Jones, bimbingan belajar merupakan suatu proses pemberian bantuan seseorang pada orang lain dalam menentukan pilihan dan pemecahan masalah dalam kehidupannya. Sedangkan menurut L D Crow dan A Crow, bimbingan belajar merupakan suatu bantuan yang dapat diberikan oleh seseorang yang telah terdidik pada orang lain yang mana usianya tidak ditentukan untuk dapat menjalani kegiatan dalam hidupnya. Jadi, bimbingan belajar adalah suatu bentuk kegiatan dalam proses belajar yang dilakukan oleh seseorang yang telah memiliki kemampuan lebih dalam banyak hal untuk diberikan kepada orang lain yang mana bertujuan agar orang lain dapat menemukan pengetahuan baru yang belum dimilikinya serta dapat diterapkan dalam kehidupannya.
1.2  Tujuan Masalah
a.       Mengerti dan memahami metode layanan konseling
b.      Dapat memberikan contoh kasus pada layanan konseling





BAB II
PEMBAHASAN

Metode merupakan suatu jalur atau jalan yang harus dilalui untuk pencapaian suatu tujuan, karena kata metode berasal dari meta berarti memalui dan hodos berarti jalan. Balam bimbingan dan konselin bisa dikatakan sebagai suatu cara tertentu yang digunakan dalam proses bimbingan dan konseling. Secara umum ada dua metode dalam pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu pertama, metode bimbingan individual, dan kedua,metode bimbingan kelompok . Metode bimbingan kelompok di kenal juga dengan bimbingan (group guidance) sedangkan metode bimbingan individual dikenal dengan individual konseling.


a. Metode Bimbingan Individual

Seperti telah disebutkan dalam pembahasan di atas bahwa konseling merupakan salah satu teknik bimbingan. Melalui metode ini upaya pemberian bantuan diberikan secara individual dan langsung bertatap muka (berkomunikasi) antara pembimbing ( konselor ) dengan siswa (klien). Dengan perkataan lain pemberian bantuan diberikan dilakukan melalui hubungan yang bersifat face to face relationship (hubungan empat mata), yang dilaksanakan dengan wawancara antara (pembimbing) konselor dengan siswa( klien).Masalah – masalah yang dipecahkan melalui teknik konseling, adalah masalah – masalah yang bersifat pribadi.
Dalam konseling individual, konselor dituntut untuk mampu bersikap penuh simpati dan empati. Simpati ditunjukan oleh konselor melalui sikap turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh klien (siswa). Sedangkan empari adalah usaha konselor menempatkan diri dalam situasi diri klien dengan segala masalah – masalah yang dihadapinya. Keberhasilan konselor bersimpati dan berempati akan memberikan kepercayaan yang sepenuhnya kepada konselor. Keberhasilan bersimpati dan berempati dari konselor juga akan sangat membantu keberhasilan proses konseling.
Apabila merajuk kepada teori – teori konseling, setidaknya ada tiga cara konseling yaitu:
  1. Directive counseling
  2. Non derective counseling
  3. Ecleretive counseling.

Banyak teori – teori konseling yang melandasi praktik konseling; antara lain: teori konseling psikoanalisasi (freud), teori konseling Ego(Adler,Jung dan fromm), teori konseling psikologi individual (Adler), teori konseling analisasi transaksional (Berne), teori konselingself (rogers), teori konseling gestal (perls), teori konseling behavioral (skinner), teori konseling realitaas (glasser), teori konseling relational emotive (Ellis),teori konseling logo therapy (frankl), teori konseling Islam, dan lain – lain. Agar lebih jelasnya cara konseling diatas dapat di perincikan sebagai berikut:

1. Konseling direktif (direktive counseling)
Konseling yang menggunakan metode ini, dalam prosesnya yang aktif atau paling berperan adalah konselor. Dalam praktiknya konselor berusaha mengarahkan klien sesuai dengan masalahnya. Selain itu, konselor juga memberikan saran, anjuran dan nasihat kepada klien. Praktik konseling yang dilakukan oleh para penganut teori behavioral counseling umumnya menerapkan cara – cara di atas dalam konselingnya. Karena praktik yang demikian, konseling ini juga dikenal dengan konseling yang berpusat pada konselor.
Praktik konseling direktif mendapat kritik terutama dari para penganut paham bahwa tujuan utama dalam konseling adalah kemandirian klien ( siswa ). Apabila klien masih dinasihati dan diarahkan berarti belum mandiri; sehingga tujuan utama konseling belum tercapai. Oleh sebab itu, para penganut paham ini menganjurkan konseling yang berpusat pada siswa ( client centered ).
2. Konseling nondirektif ( non – directive counseling )
Seperti telah di sebutkan diatas, konseling nondirektif atau konseling yang berpusat pada siswa muncul akibat kritik terhadap konseling direktif ( konseling berpusat pada konselor). Konselor nondirektif di kembangkan berdasarkan teori client centered ( konseling yang berpusat pada klien atau siswa ). Dalam praktik konseling nondirektif, konselor hanya menampung pembicaraan, yang berperan adalah konselor. Klien atau konseli bebas berbicara sedangkan konselor menampung dan mengarahkan. Metode ini tertentu sulit di terapkan kepada kepribadian tertutup ( introvert ), karena klien ( siswa ) dengan kepribadian tertutup biasanya pendiam dan sulit diajak bicara. Cara ini juga belum bisa diterapkan secara efektif untuk murid sekolah dasar dan dalam keadaan siswa SMP. Metode ini bisa diterapkansecara efektif untuk siswa SMA dan mahasiswa di perguruan tinggi.
3. Konseling Eklektif ( Eclective counseling)
Kenyataan bahwa semua teori cocok untuk semua individu, semua masalah siswa, dan semua situasi konseling. Siswa disekolah atau di madrasah memiliki tipe – tipe kepribadian yang tidak sama. Oleh sebab itu, tidak mungkin di terapkan metode konseling direktif saja atau non direktif saja. Agar konseling berhasil secara efektif dan efesien, tertentu harus melihat siapa siswa ( klien ) yang akan di bantu atau di bombing dan melihat masalah yang dihadapi siswa dan melihat situasi konseling. Apabila terhadap siswa tertentu tidak bisa di terapkan metode derektif, maka mungkin bisa diterapkan metode nondirektif begitu juga sebaliknya. Atau apabila mungkin adalah dengan cara menggabungkan kedua metode di atas. Penggabungan kedua metode konaseling di atas disebut metode aklaktif ( eclective counseling). Penerapan metode dalam konseling adalah dalam keadaan tertentu konselor menasihati dan mengarahkan konseli ( siswa ) sesuai dengan masalahnya, dan dalam keadaan yang lain konselor memberikan kebebasan kepada konseli ( siswa ) untuk berbicara sedangkan konselor mengarahkan saja.

b. Metode Bimbingan Kelompok

Cara ini dilakukan untuk membantu siswa (klien) memecahkan masalah melalui kegiatan  kelompok. Masalah yang dipecahkan bersifat kelompok, yaitu yang disarankan bersama oleh kelompok (beberapa orang siswa) atau bersifat individual atau perorangan, yaitu masalah yang disarankan oleh individu (seorang siswa) sebagai anggota kelompok.
Penyelenggaraan bimbingan kelompok antara lain dimaksudkan untuk mengatasi masalah bersama atau individu yang menghadapi masalah dengan menempatkanya dalaam kehidupan kelompok. Beberapa jenis metode bimbingan kelompok adalah:
  1. Program Home Room
  2. Karyawisata
  3. Diskusi kelompok
  4. Kegiatan Kelompok
  5. Organisasi Siswa
  6. Sosiodrama
  7. Psikodrama
  8. Pengajaran Remedial
Metode-metode diatas biasanya sering dilakukan dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling dimana terdapat pemimpin kelompok (Leader) dan anggota kelompok yang menggunakan dinamika kelompok. Metode-metode diatas dapat di jelaskan yaitu sebagai berikut:

  • Program Home Room
Program ini dilakukan dilakukan di luar jam perlajaran dengan menciptakan kondisi sekolah atau kelas seperti di rumah sehingga tercipta kondisi yang bebas dan menyenangkan. Dengan kondisi tersebut siswa dapat mengutarakan perasaannya seperti di rumah sehingga timbul suasana keakraban. Tujuan utama program ini adalah agar guru dapat mengenal siswanya secara lebih dekat sehingga dapat membantunya secara efsien.
  •  Karyawisata
Karyawisata dilaksanakan dengan mengunjungi dan mengadakan peninjauan pada objek-objek yang menarik yang berkaitan dengan pelajaran tertentu. Mereka mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Hal ini akan mendorong aktivitas penyesuaian diri, kerjasama, tanggung jawab, kepercayaan diri serta mengembangkan bakat dan cita-cita.
Penggunaan karyawisata untuk maksud membantu siswa mengumpulkan informasi dan mengembangkan sikap-sikap yang positif, menghendaki siswa berpartisipasi secara penuh baik dalam persiapan maupun pelaksanaan berbagai kegiatan terhadap objek yang dikunjungi. Kegiatan karyawisata dapat dilakukan di berbagai lapangan lapangan. Untuk itu, perlu dibuat variasi objek-objek yang akan dikunjungi dari waktu ke waktu. Hal ini dimaksudkan untuk memungkinkan siswa-siswa mempunyai kesempatan mengenal banyak objek yang berbeda. Kunjungan yang bervariasi itu merupakan salah satu cara untuk memperluas minat dan mengembangkan sikap-sikap yang konstruktif.


  • Diskusi kelompok
Diskusi kelompok merupakan suatu cara di mana siswa memperoleh kesempatan untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Setiap siswa memperoleh kesempatan untuk mengemukakan pikirannya masing-masing dalam memecahkan suatu masalah. Dalam memlakukan diskusi siswa diberi peran-peran tertentuseperti pemimpin diskusi dan notulis dan siswa lain menjadi peserta atau anggota. Dengan demikian akan timbul rasa tanggung jawab dan harga diri.
  •  Kegiatan Kelompok
Kegiatan kelompok dapat menjadi suatu teknik yang baik dalam bimbingan, karena kelompok dapat memberikan kesempatan pada individu (para siswa) untuk berpartisipasi secara baik. Banyak kegiatan tertentu yang lebih berhasil apabila dilakukan secara kelompok. Melalui kegiatan kelompok dapat mengembangkan bakat dan menyalurkan dorongan-dorongan tertentu dan siswa dapat menyumbangkan pemikirannya. Dengan demikian muncul tanggung jawab dan rasa percaya diri.
  •  Organisasi Siswa
Organisasi siswa khususnya di lingkungan sekolah dan madrasah dapat menjadi salah satu teknik dalam bimbingan kelompok. melalui organisasi siswa banyak masalah-masalah siswa yang baik sifatnya individual maupun kelompok dapat dipecahkan. Melalui organisasi siswa, para siswa memperoleh kesempatan mengenal berbagai aspek kehidupan sosial. Mengaktifkan siswa dalam organisasi siswa dapat mengembangkan bakat kepemimpinan dan memupuk rasa tanggung jawab serta harga diri siswa.
Kegiatan organisasi siswa mialnya OSIS sangat membantu proses pembentukan anak, baik secara pribadi maupun sebagai anggota masyarakat. Kemampuan pribadi dapat dikembangkan dengan baik, kesiapan sebagai anggota kelompok atau masyarakat dapat dikembangkan dengan baik pula.
  •  Sosiodrama
Sosiodrama dapat digunakan sebagai salah satu cara bimbingan kelompok. sosiodrama merupakan suatu cara membantu memecahkan masalah siswa melalui drama. Masalah yang didramakan adalah masalah-masalah sosial. Metode ini dilakukan melalui kegiatan bermain peran. Dalam sosiodrama, individu akan memerankan suatu peran tertentu dari situasi masalah sosial.
Pemecahan masalah individu diperoleh melalui penghayatan peran tentang situasi masalah yang dihadapinya. Dari pementasan peran tersebut kemudian diadakan diskusi mengenai cara-cara pemecahan masalah.
Teknik sosiodrama adalah suatu cara dalam bimbingan yang memberikan kesempatan pada murid-murid untuk mendramatisasikan sikap, tingkah laku atau penghayatan seseorang seperti yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Maka dari itu, sosiodrama dipergunakan dalam pemecahan masalah-masalah sosial yang mengganggu belajar dengan kegiatan drama sosial.
  •  Psikodrama
Hampir sama dengan sosiodrama. Psikodrama adalah upaya pemecahan masalah melalui drama. Bedanya adalah masalah yang didramakan. Dalam sosiodrama masalah yang diangkat adalah masalah sosial, akan tetapi pada psikodrama yang didramakan adalah masalah psikis yang dialami individu.
  •  Pengajaran Remedial
Pengajaran remedial (remedial teaching) merupakan suatu bentuk pembelajaran yang diberikan kepada seorang atau beberapa orang siswa untuk membantu kesulitan belajar yang dihadapinya. Pengajaran remedial merupakan salah satu teknik pemberian bimbingan yang dapat dilakukan secara individu maupun kelompok tergantung kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa.
2.1 Jenis-Jenis Pelayanan Bimbingan dan Konseling Dan Contoh Kasus
  • Layanan Orientasi; layanan yang memungkinan peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu, sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal semester. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang berfungsi untuk pencegahan danpemahaman.
Contoh: pada tahun ajaran baru, di suatu sekolah menerima 5 kelas murid baru, tugas konselor sekolah disini ialah, memberikan pemahaman kepada mereka agar mereka bisa beradaptasi terhadap lingkungan yang baru. Baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Misalnya harus menyesuaikan diri dengan teman-teman baru, guru baru, mata pelajaran baru, serta peraturan-peraturan yang ada di sekolah yang baru tersebut.
  • Layanan Informasi; layanan yang memungkinan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan). Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi pun berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman.
Contoh : Pada saat siswa-siswa SMA kelas XII akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maupun dunia pekerjaan, tugas konselor sekolah disini ialah memberikan layanan informasi tentang perguruan-perguruan tinggi yang hendak mereka pilih, serta lapangan-lapangan pekerjaan yang tersedia untuk siswa-siswa tersebut. Hal ini untuk memberikan pemahaman tentang rencana mereka setelah lulus SMA serta mencegah terjadinya kesalahan dalam pemilihan jurusan, perguruan tinggi, serta lapangan pekerjaan.
  • Layanan Pembelajaran; layanan yang memungkinan peserta didik mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan pembelajaran berfungsi untuk pengembangan.
Contoh : seorang anak mempunyai bakat menyanyi dia berusaha mengembangkan bakatnya tersebut. dengan cara mengikuti audisi menyanyi.
  • Layanan Penempatan dan Penyaluran; layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ko/ekstra kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat mengembangkan segenap bakat, minat dan segenap potensi lainnya. Layanan Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan.
Contoh : siswa yang kurang mampu dalam mengikuti pelajaran, tetapi ia dalam mengikuti kegiatan ekskul sangat bersemangat dan selalu mengikuti kegiatan dengan senang hati, maka kita harus bisa membimbing dan membantunya agar ia dapat mengeksplorasi diri dan dapat memilih dan mengetahui bakatnya.
  • Layanan Konseling Perorangan; layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan perkembangan dirinya. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.
Contoh : seorang anak yang memiliki permasalahan dirumah dan mengganggu dalam hal prestasi yang ia miliki, dan hal itu membuat konselor sekolah tergeak untuk memanggil ia secara pribadi untuk membantu siswa tersebut mengentaskan masalahnya. Diruangan konseling tersebut, konselor tersebut mengadakan pembicaraan 4 mata.
  • Layanan Bimbingan Kelompok; layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan Pengembangan.
Contoh : konselor sekolah memiliki data tentang anak yang memiliki permasalahan yang sama. Karena hal ini adalah salah satu tugasnya. Dan iapun memanggil anak-anak yang memiliki permasalahan yang sama itu. Mereka membentuk satu lingkaran disuau ruangan. Dari mereka satu persatu menjabarkan inti permasalahan yang ia miliki. Dan mereka jugalah yang menemukan permasalahan mereka dan memecahkannya secara bersama-sama. Dalam hal ini permasalahan mereka, penurunan nilai pelajaran. Dan konselor yang membantu meluruskan.
  • Layanan Konseling Kelompok; layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.
Contoh : dalam sekelompok siswa memiliki permasalahan yang berbeda. Dan mereka melingkar yang didampingi oleh konselor. Mereka masing-masing berkenalan dan mulai mengutarakan permasalahan mereka. Setelah semua menyampaikan permasalahan masing-masing, dari mereka memberikan masukan pada teman-temannya. Dan konselor teap mendampingi.
  • Layanan Konsultasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara yang perlu dilaksanakan dalam menangani kondisi dan atau masalah peserta didik.
Contoh : pada saat seorang siswa mengalami kebimbangan dalam menentukan sesuatu, ia mendatangi konselor untuk berkonsultasi dan meminta bantuan  agar dapat memberikan pencerahan terhadap kebimbangan yang dialaminya.

  • Layanan Mediasi, yaitu layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antar mereka.
Contoh: konselor memanggil 2 siswa yang bermasalah keruangannya. Konselor mencari inti permasalahan diantara mereka. Setelah konselor menarik kesimpulan dari permasalahannya, maka konselor memberikan masukan agar mereka berdua dapat rukun kembali.





BAB III
PENUTUP
a.        Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan konseling ditujukan untuk membimbing dan mengarahkan individu melalui usahanya sendiri untuk menentukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi serta bertujuan agar individu dapat mengembangkan dirinya secara optimal/sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

b. Saran

       Suatu kemampuan dapat berkembang secara optimal apabila mendapat bimbingan dan   konseling yang terarah.


No comments:

Post a Comment